Kamis, 04 Maret 2010

LESSON STUDY

Lesson Study (LS) pada awalnya dimulai dengan pengkajian materi kurikulum (kyouzai kenkyuu) yang berfokus pada pengajaran matematika bagi guru-guru di Jepang. Kajian tersebut diri pada kurikulum matematika di U.S yang dirancang berbasis temuan-temuan penelitian unggul.Kajian tersebut melahirkan suatu perubahan paradigma tentang materi kurikulum dari ”memanjakan” menuju pada ”pemberdayaan” potensi siswa. Paradigma ”memanjakan” mengalami anomali, karena materi kurikulum sering tidak memperhatikan karakteristik siswa, sehingga substansi materi sering lepas konteks dan tidak relevan dengan kebutuhan siswa. Akibatnya, siswa kurang tertarik, pembelajaran menjadi tidak bermakna, siswa sering menyembunyikan ketidakmampuan. Hal ini terjadi sebagai akibat koreksi dan perhatian guru yang lemah terhadap potensi mereka. Sementara, paradigma ”pemberdayaan” bertolak dari potensi siswa yang mampu ”mengada”, sehingga materi kurikulum seyogyanya dikembangkan berbasis kebutuhan siswa, materi seyogyanya menyediakan model paedagogi yang mampu menampilkan aspek kemenarikan pembelajaran. Paradigma tersebut dapat berkembang jika pembelajaran dihasilkan dari kerja tim mulai dari perencanaan, pelaksanaan, kolaborasi, dan refleksi secara berkesinambungan. Cara seperti ini melahirkan konsep Lesson Study (LS). 
  LS merupakan terjemahan dari bahasa Jepang jugyou ( instruction = pengajaran, atau lesson = pembelajaran) dan kenkyuu (research = penelitian atau study = kajian). Lesson study, yang dalam bahasa Jepangnyajugyou kenkyuu , adalah sebuah pendekatan untuk melakukan perbaikan-perbaikan pembelajaran di Jepang. Perbaikan-perbaikan pembelajaran tersebut dilakukan melalui proses-proses kolaborasi antar para guru. Lewis (2002) mendeskripsikan prosesproses tersebut sebagai langkah-langkah kolaborasi dengan guru-guru untuk merencanakan (plan ), mengamati (observe), dan melakukan refleksi (reflect) terhadap pembelajaran (lessons). Lebih lanjut, dia menyatakan, bahwa Lesson study adalah suatu proses yang kompleks, didukung oleh penataan tujuan secara kolaboratif,percermatan dalam pengumpulan data tentang belajar siswa, dan kesepakatan yang memberi peluang diskusi yang produktif tentang isu-isu yang sulit. LS hakikatnya merupakan aktivitas siklikal berkesinambungan yang memiliki implikasi praktis dalam

  LS dapat berfungsi sebagai salah satu upaya pelaksanaan program inservice training bagi para guru. Upaya tersebut dilakukan secara kolaboratif dan berkelanjutan. Pelaksanaanya adalah di dalam kelas dengan tujuan memahami siswa secara lebih baik. LS dilaksanakan secara bersama-sama dengan guru lain. 
  LS merupakan salah satu strategi pengembangan profesi guru. Kelompo guru pembelajaran secara bersama-sama, salah seorang guru ditugasi melaksanakan pembelajaran, guru lainnya mengamati belajar siswa. Proses ini dilaksanakan selama pembelajaran berlangsung. Pada akhir kegiatan, guru-guru berkumpul dan melakukan tanya jawab tentang pembelajaran yang dilakukan, merevisi dan menyusun pembelajaran berikutnya berdasarkan hasil diskusi. 
  Di samping melibatkan guru sebagai kolaborator, dalam LS juga melibatkan dosen LPTK dan pihak lain yang relevan dalam mengembangkan program dan pelaksanaan pembelajaran yang efektif. Secara lebih sederhana, siklus LS dapat dilakukan melalui serangkaian kegiatan: Planning-Doing-Seeing (Plan-Do-See) (Saito, et al. (2005). Ketiga kegiatan tersebut diistilahkan sebagai kaji pembelajaran berorientasi praktik. 

  1. Perencanaan (Plan) 
Tahap ini bertujuan untuk menghasilkan rancagan pembelajaran yang diyakini mampu membelajarkan siswa secara efektif serta membangkitkan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Dalam perencanaan, guru secara kolaboratif berbagi ide menyusun rancangan pembelajaran untuk menghasilkan cara-cara pengorganisasian bahan ajar, proses pembelajaran, maupun penyiapan alat bantu pembelajaran. Sebelum diimplementasikan dalam kelas, rancangan pembelajaran yang telah disusun kemudian disimulasikan.  
Pada tahap ini ditetapkan prosedur pengamatan dan instrumen yang diperlukan dalam pengamatan. 
  2. Pelaksanaan (Do) 
Tahap pelaksanaan LS bertujuan untuk mengimplementasikan rancangan pembelajaran. Dalam proses pelaksanaan tersebut, salah satu guru berperan sebagai pelaksana LS dan guru yang lain sebagai pengamat. Fokus pengamatan bukan pada penampilan guru yang mengajar, tetapi lebih diarahkan pada kegiatan belajar siswa dengan berpedoman pada prosedur dan insturumen yang telah disepakati pada tahap perencanaan. Pengamat tidak diperkenankan mengganggu proses pembelajaran. 

  3. Refleksi (See) 
  Tujuan refleksi adalah untuk menemukan kelebihan dan kekurangan pelaksanaan 
pembelajarn. Kegiatan diawali dengan penyampaian kesan dari pembelajar dan selanjutnya diberikan kepada pengamat. Kritik dan saran diarahkan dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran dan disampaikan secara bijak tanpa merendahkan atau menyakiti hati guru yang membelajarkan. Masukan yang positif dapat digunakan untuk merancang kembali pembelajaran yang lebih baik. 
3. Lesson Study dalam Pengembangan Profesionalisme Guru 
  Ada 8 (delapan) peluang yang dapat diperoleh oleh guru, apabila dia melaksanakan LS secara berkesinambungan. Ke-8 peluang tersebut sangat erat kaitannya dengan pengembangan profesionalisme guru (Lewis, 2002), yaitu (1) memikirkan dengan cermat mengenai tujuan pembelajaran, materi pokok, dan bidang studi, (2) mengkaji dan mengembangkan pembelajaran yang terbaik yang dapat dikembangkan, (3) memperdalam pengetahuan mengenai materi pokok yang diajarkan, (4) memikirkan secara mendalam tujuan jangka panjang yang akan dicapai yang berkaitan dengan siswa, (5) merancang pembelajaran secara kolaboratif, (6) mengkaji 
cermat cara dan proses belajar serta tingkah laku siswa, (7) mengembangkan 
pengetahuan pedagogis yang kuat penuh daya, dan (8) melihat hasil pembelajaran sendiri melalui mata siswa dan kolega. 
1. LS memungkinkan Guru Memikirkan Dengan Cermat Mengenai Tujuan 
  Pembelajaran, Materi Pokok, dan Bidang Studi 
 LS tidak hanya memperhatikan pembelajaran untuk satu kali pertemuan atau satu pokok bahasan saja, melainkan bagaimana membelajarkan satu unit materi pokok dan bahkan bidang studi, dan juga memperhatikan perkembangan siswa dalam jangka panjang. Karena itu, ketika memilih bidang kajian akademis dan topik LS, guru sering 
1) menargetkan dalam mengatasi kelemahan siswa dalam belajar,  
 (b) memilih topik yang bagi guru sulit mengajarkannya,  
c) memilih subjek terkini, misalnya aspek kebaharuan segi isi, teknologi, dan pendekatan pembelajaran, 
(d) memusatkan perhatian pada hal terpenting yang mendasar yang berpengaruh terhadap pembelajaran lainnya (misalnya bahasa dan matematika). 
  2. LS Memungkinkan Guru Mengkaji dan Mengembangkan Pembelajaran 
  yang Terbaik yang Dapat Dikembangkan 
  Melalui LS, guru dapat mengkaji dan mengemangkan pembelajaran yang terbaik, 
misalnya guru mampu menghasilkan produk buku. Buku-buku tersebut memuat tujuan 
jangka panjang yang ingin dicapai, filosofi pembelajaran yang dianut, rancangan pembelajaran dan rancangan seluruh unit, contoh hasil kerja siswa, hasil refleksi mengenai kekuatan dan kesulitan dalam pembelajaran, serta petunjuk praktis bagi guru lain yang ingin mencoba pembelajaran tersebut. Dalam hal ni, guru yang lain tidak hanya diharapkan mencoba membelajarkan, tetapi yang lebih penting mereka sedapat mungkin menambah, menguji, dan melaporkan perbaikan yang mereka lakukan. Prosestersebut akan bermuara pada peningkatan kualitas pembelajaran. 
  3. LS memungkinkan Guru Memperdalam Pengetahuan Mengenai Materi 
  Pokok Yang Diajarkan 
  LS juga memperdalam pengetahuan guru mengenai materi pokok yang diajarkan. 
Dengan melaksanakan LS, guru dapat mengidentifikasi dan mengorganisasi informasi apa yang mereka perlukan untuk memecahkan masalah pembelajaran yang menjadi fokus kajian dalam LS. Melalui LS guru secara bersama-sama berkesempatan untuk memikirkan pengetahuan yang dianggap penting, apa saja yang belum mereka ketahui mengenai hal itu, dan berusaha mencari informasi yang mereka perlukan untuk membelajarkan siswa. 
  4. LS Memungkinkan Guru Memikirkan Secara Mendalam Tujuan Jangka 
  Panjang Yang Akan Dicapai Yang Berkaitan dengan Siswa 
  LS dapat memberi kesempatan kepada guru untuk mempertimbangkan kualitas ideal yang ingin dikuasai oleh siswa pada saat mereka lulus, kualitas apa yang dimiliki siswa saat sekarang, dan bagaimana mengatasi kesenjangan yang ada di antaranya.Guru sering menerjemahkan kualitas ideal yang diharapkan dimiliki oleh para siswa itu adalah dalam bentuk kecakapan hidup. Kecakapan-kecakapan hidup yang dimaksud, misalnya sikap menghargai persahabatan, mengembangkan perspektif, dan cara berpikir dalam menikmati sains. 
  5. LS Memungkinkan Guru Merancang Pembelajaran Secara Kolaboratif 
  LS memberi kesempatan kepada guru secara kolaboratif merancang pembelajaran. Menurut Lewis (2002), rata-rata guru di Jepang mengamati sekitar 10 pembelajaran yang diteliti setiap tahun. Guru di Jepang mempersepsi bahwa aktivitas kolaboratif sangat menguntungkan. Aktivitas kolaboratif dapat memberikan kesempatan epada guru untuk memikirkan pembelajarannya sendiri setelah mempertimbangkannya dengan pengalaman yang dilakukan oleh guru yang lain. Melalui LS guru dapat saling membelajarkan melalui aktivitas-aktivitas shared knowledge. 

  6. LS Memungkinkan Guru Mengkaji Secara Cermat Cara dan Proses Belajar Serta Tingkah Laku Siswa 
  LS memberi kesempatan kepada guru untuk mengkaji secara cermat cara dan proses belajar serta aktivitas siswa. Fokus LS hendaknya diarahkan pada peningkatan pembelajaran melalui pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa. Pengamatan tersebut bertujuan untuk menemukan cara-cara untuk meningkatkan kegiatan belajar dan apa yang mereka perlukan untuk memecahkan masalah pembelajaran yang menjadi fokus kajian dalam LS. Melalui LS guru secara bersama-sama berkesempatan untuk memikirkan pengetahuan yang dianggap penting, apa saja yang belum mereka ketahui mengenai hal itu, dan berusaha mencari informasi yang mereka perlukan untuk embelajarkan siswa. 
4. LS Memungkinkan Guru Memikirkan Secara Mendalam Tujuan Jangka 
  Panjang Yang Akan Dicapai Yang Berkaitan dengan Siswa LS dapat memberi kesempatan kepada guru untuk mempertimbangkan kualitasideal yang ingin dikuasai oleh siswa pada saat mereka lulus, kualitas apa yang dimiliki siswa saat sekarang, dan bagaimana mengatasi kesenjangan yang ada diantaranya. Guru sering menerjemahkan kualitas ideal yang diharapkan dimiliki oleh para siswa itu adalah dalam bentuk kecakapan hidup. Kecakapan-kecakapan hidup yang dimaksud, misalnya sikap menghargai persahabatan, mengembangkan perspektif, dan cara berpikir dalam menikmati sains. 
  5. LS Memungkinkan Guru Merancang Pembelajaran Secara Kolaboratif 
  LS memberi kesempatan kepada guru secara kolaboratif merancang pembelajaran. Menurut Lewis (2002), rata-rata guru di Jepang mengamati sekitar pembelajaran yang diteliti setiap tahun. Guru di Jepang mempersepsi bahwa aktivitas kolaboratif sangat menguntungkan. Aktivitas kolaboratif dapat memberikan kesempatan kepada guru untuk memikirkan pembelajarannya sendiri setelah mempertimbangkannya dengan pengalaman yang dilakukan oleh guru yang lain. Melalui LS guru dapat saling membelajarkan melalui aktivitas-aktivitas shared knowledge. 
  6. LS Memungkinkan Guru Mengkaji Secara Cermat Cara dan Proses Belajar Serta Tingkah Laku Siswa 
  LS memberi kesempatan kepada guru untuk mengkaji secara cermat cara dan proses belajar serta aktivitas siswa. Fokus LS hendaknya diarahkan pada peningkatan pembelajaran melalui pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa. Pengamatan tersebut bertujuan untuk menemukan cara-cara untuk meningkatkan kegiatan belajar dan kegiatan berpikir siswa, bukan pada kegiatan guru. Oleh sebab itu, aktivitas LS sesungguhnya buka menyalahkan guru atau mengkritik kesalahan guru. Di dalam LS, guru perlu mencari bukti bahwa siswa memang belajar, termotivasi, dan berkembang. Berdasarkan data yang dikumpulkan, guru dapat melihat pembelajarannya melalui tanggapan siswa. Untuk memperoleh respon siswa tersebut, pertanyaan yang dapat diajukan, adalah: bagaimana pemahaman siswa mengenai materi pembelajarannya? 
Apakah siswa tertarik untuk belajar? Apakah mereka memperhatikan ide siswa lainnya? 
Secara singkat, ada 5 hal penting terkait dengan data siswa yang perlu dikumpulkan, yaitu hasil belajar akademis, motivasi dan persepsi, tingkah laku sosial, sikap terhadap belajar, dan interaksi guru-siswa dalam proses pembelajaran. 
  7. LS Memungkinkan Guru Mengembangkan Pengetahuan Pedagogis Yang 
  Kuat Penuh Daya 
  LS dapat memberi peluang kepada guru untuk mengembangkan pengetahuan pedagogis secara optimal. Hal ini disebabkan karena melalui LS guru secara terus menerus berupaya untuk mengembangkan dan meningkatkan strategi pembelajaran yang dapat diterapkan untuk menerjemahkan kurikulum. Guru dapat secara terus menerus memikirkan bagaimana kualitas pertanyaan yang mampu dipecahkan oleh siswa dalam pembelajaran. Pertanyaan tersebut diharapkan dapat memotivasi siswa untuk mempertahankan minat belajarnya secara konsisten. Guru juga memikirkan bagaimana menggunakan debat agar mampu memaksimalkan partisipasi siswa dalam diskusi dan bagaimana mendorong siswa untuk dapat membuat catatan yang baik dan melakukan refleksi diri. 
  8. LS Memungkinkan Guru Melihat Hasil Pembelajaran Sendiri Melalui Respon Siswa dan Tanggapan Para Kolega 
  LS memberi kesempatan kepada guru melihat hasil pembelajarannya sendiri melalui respon siswa dan tangapan para kolega. Data yang diberikan oleh kolega menjadi “cermin” bagi guru yang melaksanakan LS. Kolega dapat membantu guru mencatat kegiatan diskusi dalam kelompok kecil, menghitung jumlah siswa yang angkat tangan, atau mencatat pertanyaan dan jawaban guru. Guru pelaksana LS dapat pula memita kepada kolega untuk mencatat interaksi siswa, misalnya difokuskan pada interaksi 3 orang siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah, dan menilai karya mereka. Dengan cara ini, guru dapat melihat bagaimana siswa mengalami 
pembelajaran yang efektip. 

4. Implementasi lesson study dalam pembelajaran 
  Oleh karena LS dapat meningkatkan profesionalisme guru, maka pelaksanaan LS secara berkesinambungan diyakini dapat meningkatkan praktik-praktik pembelajaran sehari-hari. Peningkatan praktik-praktik pembelajaran akan bermuara pada peningkatan kualitas proses dan produk belajar siswa. Dalam praktik pembelajaran, secara operasional LS dapat dilaksanakan melalui 6 (enam) tahapan, yaitu (1) membentuk kelompok LS, (2) mefokuskan LS, (3) Merencanakan Research Lesson (RL), (4) membelajarkan dan mengamati RL, (5) mendiskusikan dan menganalisis RL, dan (6) merefleksikan dan merencanakan kembali LS. 
  1. Membentuk Kelompok LS 
  Pada tahapan pertama ini, ada empat langkah kegiatan yang dapat dilakukan, sebagai berikut. 
 (a) Merekrut anggota kelompok dari guru, dosen, pejabat pendidikan, dan pemerhati pendidikan. Kriteria anggota adalah memiliki komitmen minat, dan kemauan untuk melakukan inovasi dan memperbaiki kualitas pendidikan. 

 (b) Membuat komitmen untuk menyediakan waktu khusus guna mewujudkan atau mengimplementasikan lesson study. Para anggota kelompok biasanya menyelenggarakan pertemuan rutin baik mingguan, bulanan, semesteran, maupun tahunan dalam tahun ajaran tertentu. 
 (c) Menyusun jadwal pertemuan tertentu mengingat pertemuan sangat sering dan beragam. Jadwal juga sangat berguna dalam mengatur semua tugas yang terkait dengan kegiatan anggota kelompok, termasuk tugas mengajar rutin. 
 (d) Menyetujui aturan main kelompok, antara lain bagaimana cara mengambil keputusan kelompok, bagaimana membagi tanggung jawab antaranggota kelompok, penggunaan waktu, dan bagaimana menyampaikan saran, termasuk bagaimana menetapkan siapa yang menjadi fasilitator diskusi. 
  2. Mefokuskan LS 
  Pada tahapan ini, ada tiga langkah kegiatan yang dapat dilakukan, sebagai berikut. 
  (a) Menyepakati tema penelitian untuk lesson study. Tema penelitian dipilih dengan memperhatikan tiga hal. Pertama, bagaimana kualitas aktual para siswa saat sekarang. Kedua, apa kualitas ideal para siswa yang diinginkan di masa mendatang. Ketiga, adakah kesenjangan antara kualitas ideal dan kualitas aktual para siswa yang menjadi sasaran lesson study. Kesenjangan inilah yang dapat diangkat menjadi bahan tema penelitian. 
 (b) Memilih mata pelajaran untuk lesson study. Sebagai panduan memilih mata pelajaran dapat menggunakan pertanyaan berikut. Pertama, mata pelajaran apa yang paling sulit bagi siswa. Kedua, mata pelajaran apa yang paling sulit diajarkan oleh guru. Ketiga, mata pelajaran apa yang ada pada kurikulum baru yang ingin dikuasai dan dipahami oleh guru. 
(c) Memilih topik (unit) dan pelajaran (lesson). Topik yang dipilih sebaiknya adalah 
topik yang menjadi dasar bagi topik belajar berikutnya, topik yang selalu sulit bagi 
siswa atau tidak disukai siswa, topik yang sulit diajarkan atau tidak disukai guru, 
atau topik yang baru dalam kurikulum. Setelah topik dipilih selanjutnya 
menetapkan tujuan topik tersebut. Berdasarkan tujuan topik ini ditetapkan beberapa pelajaran yang akan menunjang tercapainya tujuan topik tersebut. 
  3. Merencanakan Research Lesson (RL) 
  Dalam merencanakan suatu RL, dilaksanakan tiga langkah kegiatan, sebagai berikut. 
  (a) Mengkaji pelajaran-pelajaran yang sedang berlangsung atau yang sudah ada. 
  (b) Mengembangkan suatu rencana untuk memandu belajar. Rencana untuk memandu 
siswa belajar akan memandu pelaksanaan pembelajaran, pengamatan, dan diskusi 
tentang RL serta mengungkap temuan yang muncul selama lesson study 
berlangsung. Rencana untuk memandu belajar itu merupakan suatu hal yang ompleks. Oleh sebab itu, akan sangat membantu jika diperhatikan elemennya dalam tiga daerah lingkaran yang terpusat, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 

3, yaitu rencana research lesson yang terletak pada daerah pusat lingkaran, rencana unit (unit plan) yang berada pada ring lingkaran yang lebih luar, dan rencana pembelajaran menyeluruh yang berlokasi pada daerah ring lingkaran paling luar. 

Dalam merencanakan research lesson secara efektif, dapat dilakukan dengan memikirkan jawaban dari dua buah pertanyaan berikut. Pertama, perubahan- perubahan apa saja yang akan terjadi pada siswa selama pembelajaran berlangsung? Kedua, apa saja yang dapat dilakukan untuk membangkitkan memotivasi instrinsik siswa? Rencana research lesson ini biasa ditulis dalam suatu tabel yang memuat tiga atau empat kolom. Kolom-kolom tersebut memuat (a) pertanyaan, masalah, dan kegiatan yang harus dikemukakan oleh guru, (b) antisipasi jawaban-jawaban siswa, (c) jawaban-jawaban yang direncanakan guru untuk siswa, (d) butir-butir yang perlu dicatat selama pelajaran (atau “evaluasi”). pertanyaan berikut: Apa yang saat ini dipahami oleh siswa tentang topik ini? Apa yang diinginkan untuk dipahami siswa pada akhir pembelajaran? Apa “drama” atau rentetan pertanyaan dan pengalaman yang akan mendorong siswa untuk berpindah dari pemahaman awal menuju pemahaman yang akan diinginkan? Bagaimana siswa akan menjawab pertanyaan dan beraktivitas pada pembelajaran tersebut? Apa masalah dan miskonsepsi yang akan muncul? Bagaimana guru akan menggunakan ide dan miskonsepsi untuk meningkatkan pelajaran tersebut? Apa yang akan membuat pelajaran ini mampu memotivasi dan bermakna bagi siswa? Apa bukti tentang belajar siswa, memotivasi siswa, perilaku siswa yang harus dikumpulkan agar guru dapat mendiskusikan pembelajaran itu dan membahasnya dalam tema penelitian yang lebih luas? Apa sajakah format pengumpulan data yang diperlukan? 
(c) Mengundang pakar dari luar (bila memungkinkan). Pakar bisa dari guru, dosen, atau peneliti yang memiliki pengetahuan tentang bidang studi dan atau bagaimana memelajarkannya. 
  4. Membelajarkan dan mengamati RL 
  RL yang telah direncanakan sudah dapat diimplemetasikan dan diamati. Salah satu guru yang telah disepakati ditunjuk untuk membelajarkan pelajaran (lesson) yang sudah ditetapkan, sedangkan anggota kelompok lain sebagai pengamat. Pengamat berbagi tugas dan tugas utamanya adalah hanya untuk mempelajari pembelajaran yang berlangsung, bukan membantu siswa. Untuk mendokumentasikan research lesson dapat dilakukan dengan menggunakn audiotape, vediotape, handycam, kamera, karya siswa, dan catatan observasi naratif. 
   
 5. Mendiskusikan dan menganalisis RL 
  RL yang sudah diimplementasikan perlu didiskusikan dan dianalisis. Diskusi dan 
analisis diharapkan memuat hal-hal sebagai berikut: refleksi instruktur, latar belakang anggota kelompok LS, presentasi dan diskusi tentang data dari RL, diskusi umum, komentator dari luar (opsional), dan ucapan terima kasih. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan diskusi, adalah sebagai berikut. 
  (a) Diskusi dilaksanakan segera, pada hari yang sama. 
  (b) Pembelajar diberi kesempatan pertama mengemukakan kesulitan yang dihadapi dalam pembelajaran. 
  (c) Pembelajaran yang dilaksanakan merupakan milik pembelajaran semua anggota kelompok (pembelajaran “kita” bukan pembelajaran “saya”) 
 (d) Instruktur atau guru yang erencanakan pembelajaran perlu menceritakan alasannya dan menjelaskan perbedaan antara rencana dan apa yang telah terlaksana. 
  (e) Diskusi difokuskan pada data yang dikumpulkan oleh pengamat. 
  (f) Waktu diskusi digunakan secara efektif dan efisien. 
   
 6. Merefleksikan LS dan merencanakan tahapan berikutnya 
  Dalam merefleksikan LS perlu dipikirkan tentang apa yang sudah berlangsung 
dengan baik sesuai dengan rencana dan apa yang masih perlu diperbaiki. Selanjutnya perlu juga dipikirkan apa yang harus dilakukan kelompok lesson study. Pertanyaan- pertanyaan berikut dapat digunakan untuk membantu guru dalam melakukan refleksi. 
  (a)Apakah yang berguna atau bernilai tentang lesson study yang dikerjakan 
  bersama? 
  (b) Apakah lesson study membimbing guru untuk berpikir dengan cara baru 
  tentang praktek pembelajaran sehari-hari? 
  (c) Apakah lesson study membantu mengembangkan pengetahuan guru tentang mata pelajaran serta pengetahuan tentang belajar dan perkembangan siswa? 
  (d) Apakah lesson study menarik bagi semua guru? 
  (e) Apakah guru berkeja sama secara produktif dan sportif? 
  (f) Sudahkan guru membuat kemajuan terhadap tujuan lesson study secara 
  menyeluruh? 
  (g) Apakah semua anggota kelompok sudah merasa terlibat dan berguna? 
  (h) Apakah pihak yang bukan peserta merasa mendapat informasi dan terundang dalam kegiatan lesson study? 



Sabtu, 20 Februari 2010

SEPUTAR SEKOLAH DASAR ( SD )


Pendidikan Dasar


1. Pertanyaan : Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global apa dimasukkan ke dalam semua mata pelajaran?
 Jawab : Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global dapat merupakan bagian dari semua mata pelajaran dan juga dapat menjadi mata pelajaran muatan lokal (panduan pengembangan KTSP-BSNP)

2. Pertanyaan : KKM sekolah menuju ke kriteria ideal 7,5. Sekolah kami hanya 6, apa boleh?
 Jawab : Boleh saja, hal ini karena mengacu kepada rambu-rambu yang dikeluarkan BSNP bahwa angkah untuk menentukan KKM adalah dari 0 – 100, jadi tidak harus mengacu pada angka ideal 7,5

3. Pertanyaan : Bagaimana caranya apabila ada anak pindahan dari sekolah lain yang KKMnya lebih rendah dari sekolah kami
 Jawab : Untuk mensinkronkan KKM sekolah anda dengan sekolah peserta didik tersebut adalah dengan melakukan placement test terhadap anak bersangkutan

4. Pertanyaan : Bagaimana dengan penambahan 4 jam pelajaran tambahan, apakah berlaku untuk SD?
 Jawab : Ya, sesuai dengan rambu-rambu yang diberikan oleh BSNP bahwa seluruh satuan pendidikan dapat menambah 4 jam pelajaran per minggu maksimal sebagai jam tambahan dari struktur program yang ada.

5. Pertanyaan : Apakah sistem penilaiannya sama dengan KBK?
 Jawab : Sistem penilaian KTSP sama dengan KBK yaitu penilaian berdasarkan proses dan hasil (classroom assessment)

6. Pertanyaan : Apa persamaan dan perbedaan KBK dan KTSP ?
 Jawab : Persamaan: KBK dan KTSP merupakan kurikulum yang dikembangkan mengacu pada kompetensi yang harus dimiliki peserta didik. Perbedaannya: KBK kurikulum yang dikembangkan secara sentralistik/pusat dan diimplementasikan oleh sekolah/satuan pendidikan, KTSP dikembangkan dan diimplementasikan oleh sekolah/satuan pendidikan.

7. Pertanyaan : Apakah SK dan KD tidak boleh berubah ?
 Jawab : SK dan KD merupakan standar nasional yang dikuatkan dengan permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi. Jadi, SK dan KD tidak boleh berubah namun boleh diperkaya.

8. Pertanyaan : SK dan KD tidak boleh berubah, indikator dikembangkan sekolah, dan bagaimana dengan UAN nya ?
 Jawab : itu tidak menjadi masalah karena UAN yang susun secara sentralistik mengacu pada SK dan KD yang terdapat di dalam standar isi.

9. Pertanyaan : Apa bisa 1 orang guru mengajar semua mata pelajaran di IPA/IPS ?
 Jawab : Pendekatan pembelajaran IPA/IPS terpadu merupakan salah satu pendekatan pembelajaran, dalam prakteknya dapat diajarkan oleh satu guru dan juga dengan cara team taching.

10. Pertanyaan : Apa pembuatan RPP itu 1 SK dan 1 KD saja ?
 Jawab : Sebaiknya ya, hal ini agar mudah dalam pendistribusian alokasi waktunya.

11`. Pertanyaan : Bagaimana mengisi raport untuk pengembangan diri ?
 Jawab : Untuk pengembangan diri dirapor dicantumkan secara kualititatif, dan diberikan deskripsi yang menggambarkan proses kegiatan dan ketercapaian tugas perkembangan peserta didik sebagai penjelasan nilai yang

12. Pertanyaan : Apakah KTSP itu harus lengkap semua silabus dan rpp semua mata pelajaran?
 Jawab : Ya, karena silabus dan RPP merupakan lampiran dari KTSP dan dapat diperbaiki dan disempurnakan apabila dianggap perlu.

13. Pertanyaan : Sampai kapan berlakunya KTSP ?
 Jawab : Masa berlaku KTSP tergantung kepentingan dan kebutuhan sekolah, karena KTSP setiap saat dapat diperbaiki dan disempurnakan sesuai kebutuhan peserta didik pada saat itu.
14. Pertanyaan : Apakah pembelajaran tematik harus mengaitkan semua mata pelajaran?
 Jawab : Tidak harus semua mata pelajaran harus dipadukan, dapat memadukan beberapa mata pelajaran saja.

15. Pertanyaan : Dalam dokumen 1 KTSP, ada visi, misi, tujuan sekolah. Apa boleh ditambah dengan indikator?
 Jawab : Tidak perlu

16. Pertanyaan : Apa boleh dokumen 1 KTSP yg disahkan tanpa dokumen 2
 Jawab : Tidak boleh, kerena silabus dan RPP merupakan lampiran KTSP (dokumen 1)

17. Pertanyaan : Bagaimana pembelajaran IPA terpadu, karena dalam 1 semester hanya ada biologi atau fisika saja?
 Jawab : Untuk menerapkan pembelajaran IPA terpadu dapat dilakukan dengan memadukan SK/KD lintas semester pada kelas yang sama.

18. Pertanyaan : Bagaimana strategi mengajar IPA/IPS terpadu di SMP?
 Jawab : 
Strategi pelaksanaan pembelajaran IPA/IPS terpadu mencakup:
• Perencanaan: menetapkan bidang kajian yang akan dipadukan, mempelajari SK dan KD dari bidang kajian yang akan dipadukan yang dituangkan dalam pemetaan, menentukan tema, menyususn RPP
• Pelaksanaan pembelajaran: Kegiatan awal/pendahuluan, kegiatan inti. Kegiatan akhir/penutup dan tindak lanjut
• Penilaian

19. Pertanyaan : Dalam jadwal pelajaran kelas 1 sampai 3, apakah ditulis tematik saja atau mata pelajarannya?
 Jawab : Bisa keduanya, tergantung sekolah. Akan tetapi untuk memudahkan administrasi, sekolah dapat menggunakan mata pelajaran dalam penjadwalannya, namum pendekatan pembelajaran harus tematik.

20. Pertanyaan : Dalam RPP, apakah SK, KD dan indikator ditulis lagi?
 Jawab : Berdasarkan rambu-rambu dari BSNP, di dalam RPP komponen SK, KD, dan indikator harus ditulis lagi, hal ini bertujuan untuk mendeteksi pencapaiannya.
21. Pertanyaan : Bagaimana mengenai rapor untuk 2007/2008?
 Jawab : Mengacu pada standar penilaian, bentuk rapor yang digunakan untuk KTSP adalah satu nilai untuk satu mata pelajaran dan diberikan deskripsi singkat terhadap pencapaian aspek dalam mata pelajaran tersebut.

22. Pertanyaan : Apakah puskur membuat program produktif untuk SMK?
 Jawab : Tidak, program produktif untuk SMK dikembangkan oleh direktorat kejuruan.

23. Pertanyaan : Apakah IPS terpadu, sedangkan dalam SI masih terkotak-kotak ada mata pelajaran sosiologi, geografi, ekonomi, dan sejarah?
 Jawab : Untuk menerapkan pembelajaran IPS terpadu dapat dilakukan dengan memadukan SK/KD lintas semester

24. Pertanyaan : Menurut saya, pemerintah terlalu mudah untuk melakukan perubahan terhadap kurikulum, sebetulnya tidak bermasalah yang signifikan tetapi diubah menjadi kurikulum yang sekarang dinamakan KTSP. Apakah pemerintah mempunyai data yang akurat yang menyebabkan kurikulum yang sudah ada ini harus diubah menjadi KTSP?
 Jawab : Sebelum melakukan perubahan pemerintah telah melakukan kajian yang mendalam kurikulum sebelumya (kurikulum 1984 dan 19994) analisis konten, alokasi waktu, implementasi kurikulum dan juga melihat perbandingan dengan negara lain. 

25. Pertanyaan : Dulu kita pernah menggunakan kurikulum KBK, lalu kurikululum 2004. sekarang belum lagi 10 tahun kurikulum sudah diubah menjadi kurikulum ktsp. Sebenarnya bagaimana sih? Apakah kurikulum 2004 atau kurikulum KBK itu sudah dianggap gagal?
 Jawab : KBK merupakan cikal bekal dari Standar Isi, yang mana di dalamnya terdapat SK dan KD mata pelajaran. 80 % SK dan KD yang terdapat dalam Standar isi berasal dari KBK.

26. Pertanyaan : Kami di sekolah rasanya seperti kelinci percobaannya orang pusat. Ketika orang pusat yang sangat ahli memperoleh ilmu baru, kita buru-buru langsung menanggapi dan melakukan perombakan. Nanti pembaharuan yang satu belum lagi dilaksanakan dengan sempurna ada lagi perintah menjalankan sesuatu yang baru. Terus kapan pendidikan yang sedang berlangsung di sekolah kami bisa aman dari gangguan pembaharuan itu?
 Jawab : Jika permbaharuan yang dilakukan menuju ke arah yang lebih baik, kenapa harus berhenti.

27. Pertanyaan : Pada silabus ada indikator yang harus dibuat sendiri oleh kami. Pada kurikulum KBK sudah ada indicator. Sebenarnya yang enak adalah KBK karena kami tidak perlu menyusun indicator lagi. Apakah kami diperbolehkan menggunakan kurikulum KBK untuk mengambil indokatornya?
 Jawab : Bagi SK dan KD yang sama boleh saja.

28. Pertanyaan : Menurut saya mulok adalah meningkatkan potensi yang ada di daerah bukan mata pelajaran yang sifatnya internasional seperti bahasa inggris. Tetapi di beberapa daerah dan beberapa sekolah ada yang muloknya adalah bahasa inggris dan computer. Ini bagaimana? Dimana muloknya?
 Jawab : Apabila sekolah beranggapan bahasa inggris merupakan suatu kebutuhan yang relevan untuk kebutuhan lokal boleh-boleh saja, misalnya di sekolah-sekolah di sekitar pantai Kute Bali menjadikan bahasa inggris sebagai muatan lokal.

29. Pertanyaan : Berapa banyakkah mulok yang diperbolehkan dilaksanakan di sekolah?
 Jawab : Dalam struktur kurikulum dicantumkan bahwa muatan lokal setara dengan 2 jam pelajaran.

30. Pertanyaan : Apakah setiap siswa harus mengikuti mulok yang sama?
 Jawab : Ya, karena muatan lokal disusun dan diimplementasikan oleh sekolah 

31. Pertanyaan : Mengapa mulok harus ada silabusnya yang juga memuat SK dan KD? Mengapa penyusunan SK dan KD nya dibebankan kepada sekolah?
 Jawab : Karena mulok dikembangkan oleh sekolah, maka sekolah yang lebih tahu SK dan KD yang akan dicapai.

33. Pertanyaan : Pada penentuan tema-tema untuk tematik, apakah kita hanya menggunakan acuan yang telah ada atau boleh menetapkan sendiri?
 Jawab : Tema-tema yang ada panduan yang ada adalah contoh, jadi sekolah dapat memilih tema-tema yang relevan dengan situasi dan kondisi peserta didik dan lingkungan sekolah.

34. Pertanyaan : Bagaimana mengkaitkan tema-tema yang telah ada dalam bentuk silabus dan rpp? Apakah kalau melihat contoh yang ada khususnya pada rpp-nya seolah-olah dalam satu hari siswa akan mengikuti lima mata pelajaran, padahal pada jadwal yang juga ada pada contoh kelas satu satu harinya hanya 3 mata pelajaran? Bila satu hari siswa mengikuti lima mata pelajaran berarti sama dengan anak smp atau sma, belum lagi beban buku yang harus dibawa siswa ke sekolah, apakah ini tidak mengganggu kesehatan anak?
 Jawab : Satu tema dapat dijabarkan beberapa RPP, dan satu RPP digunakan untuk satu kali pertemuan, jadi satu tema tidak dipelajari dalam satu hari.

35. Pertanyaan : Penilaian yang sekarang kan ada bermacam-macam, seperti ada performans, ada produk, ada portofolio dan sebagainya. Padahal kita semua tahu bahwa ujian yang sifatnya nasional nantinya hanya bersifat pilihan ganda saja. Lalu apa gunanya kita melakukan penilaian seperti itu semuanya?
 Jawab : Hal ini karena yang diujikan secara nasional tidak semua SK dan KD yang terdapat dalam satu mata pelajaran.

36. Pertanyaan : Mata pelajaran apa saja yang ada penilaian produknya? Kalau kita akan melakukan penilaian produk, apa saja yang harus kami siapkan? Apakah setiap satu KD harus ada penilaian produknya?
 Jawab : Mata pelajaran yang cendrung menerapkan penilaian produk adalah mata pelajaran seni dan budaya, IPA, dan bahasa Indonesia/ Inggris.

37. Pertanyaan : Apakah benar bahwa penilaian proyek itu mencakup berbagai mata pelajaran?
 Jawab : Tidak, penilaian proyek dapat diterapkan dalam berbagai mata pelajaran.

38. Pertanyaan : Skor don bobot, mana yang paling tepat menentukan skor atau bobot? Skor dan bobot menjadi masalah. (Guru tidak bisa membedakan antara skor dan bobot).
 Jawab : Skor adalah perolehan siswa terhadap satu jawaban, misalnya uraian skornya bisa lebih dari 1 tidak sperti di pilihan ganda. Bobot untuk menentukan kedalaman atau kompleksitas dari satu soal, makin tinggi bobotnya berarti soal itu tingkat kesukarannya makin tinggi.

39. Pertanyaan : Gimana dengan sekolah lain yang tidak memiliki LCD, apa alternatifnya.
 Jawab : Dapat menggunakan OHP atau bahan-bahan difotokopi.

40. Pertanyaan : Permasalahan yang sering muncul dalam pelatihan/bimbingan profesional ialah pada Penilaian, seperti mengapa penilaian masih saja dilakukan di tingkat nasional dan tidak pada tingkat satuan pendidikan? Pertanyaan ini juga diikuti dengan mengapa kok hanya tiga matapelajaran itu saja dan mengapa tidak semuanya saja? Pertanyaan tentang penilaian juga menyangkut tentang pembuatan skor, membuat pembobotan, dan menentukan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Peserta pada sekolah paling baikpun tidak dapat membedakan antara skor dan bobot, hubungan apa yang terjadi antara skor dan bobot. Pada beberapa sekolah telah melaksanakan KTSP dengan segala keterbatasannya. Masih dalam penilaian, di hampir banyak peserta yang mengikuti pelatihan ini nampaknya sering terhenti dalam menjbarkan indikator yang ada, padahal indikator itu sendiri masih dapat diuraikan lebih rinci dan lebih terukur lagi, seperti pemahaman identifikasi, diskusi, pemaknaan diskusi dan identifikasi dan terminologi lainnya sering berhenti sampai disitu, sehingga pemahaman diskusi maupun identifikasi dipahami secara beragam oleh para peserta.
 Jawab : Untuk mengetahui mutu pendidikan di Indonesia, maka penilaian dilakukan di tingkat nasional. Sebetulnya tidak hanya tiga matapelajaran saja yang diujikan (UN), tetapi semua mata pelajaran lainnya (US).

41. Pertanyaan : Pada sekolah kejuruan ada pemahaman berbeda dengan sekolah umum lainnya, khususnya dalam memahami indikator dan materi, bahkan ada pembiasan pemahaman pada penjabaran dari Kompetensi dasar pada standar isi ke indikator, beberapa peserta menjabarkannya persis seperti apa yang dicontohkon oleh tabel silabus pada contoh KTSP buatan BSNP, ada yang menjabarkannya dalam bentuk materi.
 Jawab : Sebagai panduan penyusunan KTSP digunakan panduan yang dibuat oleh BSNP

42. Pertanyaan : Mengapa SKBM sekarang menjadi KKM ?
 Jawab : Pada dasarnya sama saja hanya istilahnya saja yang berbeda.

43. Pertanyaan : SKBM kriterianya ada esensial, mengapa KKM tidak ada kriteria esensial ?
 Jawab : Karena dalam standar isi, kompetensi sudah esensial (kompetensi sudah minimal).

44. Pertanyaan : Bagaimana penilaian potofolio ?
Jawab : Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik yang dikumpulkan dari waktu ke waktu dari proses pembelajaran dan membandingkan hasil setiap karya tersebut. Dan pada setiap hasil karya peserta didik diungkapkan kekuatan dan kelemahannya, sehingga peserta didik memiliki catatan-catatan yang dapat memperbaiki hasil karyanya. 
  
45. Pertanyaan : Apakah kegiatan eksperimen dalam IPA dapat dilihat sebagai penilaian performance dan projek ?
 Jawab : Ya, karena kita lihat unjuk kerjanya. Demikian juga proyek karena dari kegiatan eksperimen itu dapat membuat suatu benda atau karya tulis

46. Pertanyaan : Karya tulis dan menyusun teks pidato bisa dimasukan dalam portofolio ?
 Jawab : Ya, karena merupakan hasil karya siswa yang dapat dinilai hasilnya.

 
47. Pertanyaan : Bagaimana keterkaitan kuri 94 - 2004 dan KTSP
 Jawab : 


PERBANDINGAN STRUKTUR PROGRAM DAN MATA PELAJARAN PADA KURIKULUM 94, KURIKULUM 2004, DAN STANDAR ISI

Keterangan:
• Pada Kurikulum 1994 mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan berdiri sendiri, sedangkan pada Kurikulum 2004 Pendidikan Kewarganegaraan dan Pengetahuan Sosial bergabung menjadi satu tetapi pada Standar Isi Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial kembali menjadi berdiri sendiri
• Pada Kurikulum 2004 mata pelajaran IPA diubah menjadi Pengetahuan Alam kemudian pada Standar Isi kembali lagi menjadi mata pelajaran IPA
• Pada Standar Isi mp Kerajinan Tangan dan Kesenian berubah namanya menjadi Seni budaya dan keterampilan sedangkan di UU Sisdiknas nama mp tsb adalah Seni dan Budaya
• Pada Kurikulum 2004 mp Pendidikan Jasmani dan Kesehatan diubah namanya menjadi Pendidikan Jasmani selanjutnya di Standar Isi namanya diubah menjadi Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan diambil dari kelompok mp padai Standar Isi 


PERBANDINGAN JAM BELAJAR

Keterangan:
• Jumlah jam pelajaran per minggu pada Standar Isi lebih sedikit dibandingkan dengan Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004
• Lamanya 1 jam pelajaran pada Standar Isi lebih kecil daripada Kurikulum 2004 dan Kur 1994 (kelas III – VI) sedangkan untuk kelas I dan II Standar Isi dan Kur 2004 lebih lama daripada Kur 1994
• Minggu efektif dan jumlah jam dalam satu tahun pada Standar Isi lebih kecil daripada Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004

TANYA JAWAB PAUD / SD

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Kasus beberapa pelaksanaan Pendidikan Anak Usia Dini, TK, KB, sebagai berikut:
MBS di TK atau PAUD/KB di Kab. Sikka belum bisa berjalan dengan baik dikarenakan kurangnya kesadaran OT akan pentingnya pendidikan bagi bagi anaknya. Berbagai usaha sudah dilakukan dengan komite sekolah tetapi hasilnya belum optimal. Usaha apa yang perlu dilakukan agar masyarakat memiliki respons positif terhadap pendidikan TK dan PAUD?

Jawab: salah satunya dengan membuat pembelajaran yang menarik dan kreatif sehingga OT berminat untuk memasukkan anaknya ke PAUD. Lainnya yaitu dengan mensosialisasikan pada masyarakat dengan mempromosikan pada OT untuk mau mengikutkan anaknya pada 2 hari sekolah gratis (trial class). Ini diharapkan dapat merangsang kesadaran OT dan memberikan kesempatan OT agar terbuka wawasan berfikirnya sehingga dapat merasakan manfaat PAUD yang sangat menyenangkan bagi dunia anak.


Masyarakat dan Dinas kurang memberi perhatian pada pengembangan PAUD. Ini disebabkan karena keadaan sosial ekonomi masyarakat yang rendah (di Kab. Sikka).

Jawab: tahun ini Dinas (di Kab. Sikka) mulai menerima dana rintisan untuk KB sebesar Rp. 20 juta dari Pusat. Pendanaan tidak selalu dari pusat, melainkan dapat dari Dinas Kabupaten dengan adanya otda.
PAUD selama ini belum ada acuan kurikulum seperti di TK. Seperti di Muaro Jambi menggunakan kurikulum TK yang direndahkan kemampuan dasarnya. Apakah tidak ada kurikulum untuk PAUD non-formal?

Jawab: ada yaitu dalam bentuk Standar Perkembangan Anak usia lahir sampai dengan usia 6 tahun.


4. Terjadi pergesekan antara PAUD dan TK. Dalam satu kelurahan terdapat beberapa tempat PAUD dan TK dan disarankan agar pusat membuat kebijakan yang mengatur jarak lokasi PAUD dan TK dalam satu lokasi.

Jawab: perijinan TK dan PAUD sudah ada aturannya, namun pendirian TK/PAUD tetap ditentukan oleh daerah setempat.

5. Apakah tenaga pendidikan di PAUD sifatnya memang sukarela? Selama ini PAUD tidak ada program pengajarannya dan apa harus ada program pengajarannya?

Jawab: untuk PAUD terintegrasi dengan POSYANDU yang biasanya disebut POS PAUD yang memang berasal dari tenaga sukarela ibu rumah tangga yang aktif di PKK. PAUD memang dirintis dari usaha sukarela dahulu. Dengan berkembangnya Direktorat PAUD maka sekarang mulai bermunculan dana-dana blok grant untuk PAUD. Namun tidak sepenuhnya dinikmati langsung tetapi diserahkan secara bertahap.


6. Apakah administrasi penilaian dan pembelajaran PAUD seperti TK?

Jawab: perbedaan PAUD dan TK terletak pada usia anak didik. Oleh karena itu, pembelajaran dan cara penilaiannya sama.


7. Bagaimana persyaratan penyelenggaraan PAUD?

Jawab: persyaratannya mencakup: anak didik, tempat pembelajaran, tenaga pendidik/pengelola, program pembelajaran, surat permohonan ke dinas pendidikan.
8. Penilaian individu dengan berbagai alat penilaian seperti, observasi, catatan anekdot, unjuk kerja, hasil karya, dsb akan sangat merepotkan guru. Apakah boleh dengan hanya membuat penilaian SKH saja? Jawab: penilaian tidak cukup hanya dilakukan SKH tetapi perlu dirangkum dengan menggunakan berbagai alat penilaian.
9. Apakah dimungkinkan SD, TK, KB, dan TPA menjadi satu lembaga seperti di South Australia mengingat pada jenjang pendidikan tersebut pendekatan pembelajarannya adalah bermain sambil belajar?

Jawab: dalam satu lembaga pendidikan bisa saja terdiri dari SD, TK, KB, dan TPA seperti di luar negri. Hal ini sangat bergantung pada kemampuan yayasannya.
10. Masyarakat sangat menyambut baik adanya PAUD di masyarakat, tetapi pelaksana lapangan sering terjadi silang pendapat antara keberadaan TK dan PAUD (KB) yang pada umumnya ditangani oleh PLS?

Jawab: PAUD dapat dikatakan sebagai payungnya, meliputi: TK, KB, TPA, Pos PAUD. Semuanya memiliki porsi berbeda dimana acuannya adalah usia anak.
11. Apa perbedaan antara TK dan KB?

Jawab: antara TK dan KB tidaklah ada perbedaan yang signifikan dari segi pembelajaran, perbedaannya pada acuan utama yaitu usia: TK anak usia 4-6 tahun dan KB anak usia 2-4 tahun. TK berada pada jalur pendidikan formal sedangkan KB pada jalur pendidikan non formal.


12. Apakah anak harus melalui PAUD sebelum ke TK dan SD?

Jawab: tidak ada ketentuannya dan TK bagian dari PAUD yang berada pada jalur pendidikan formal.


13. Wisuda bagi anak yang lulusTK diperbolehkan atau tidak?

Jawab: tidak ada ketentuan mengenai boleh tidaknya wisuda di TK. Pada awalnya wisuda di TK itu hanya sebagai perayaan biasa saja yang kemudian berkembang menjadi satu tradisi seperti orang dewasa.


14. Apakah penilaian untuk PAUD bisa dapat dibuat lebih sederhana, seperti dicantumkan pada silabus semester/bulanan/mingguan?

Jawab: penilaian tercantum ada di silabus tetapi hanya besarannya, sedangkan penilaian harian dapat dimasukkan setiap hari di SKH yang kemudian dirangkum perminggu atau bulan atau semester yang kemudian menjadi bahan acuan untuk pelaporan bagi orang tua. 


15. Apakah tutor untuk PAUD selalu wanita?

Jawab: Tidak ada ketentuan jenis kelamin untuk menjadi tutor paud asalkan yang bersangkutan memiliki kecintaan terhadap anak, sabar menghadapi anak dan memiliki keinginan untuk belajar tentang disiplin pendidikan anak usia dini.


16. Bila jumlah anak dalam satu kelas 40 orang dan guru hanya satu orang, bagaimana pemecahan mengelola kelas besar dengan model pengembangan berdasarkan minat, mengingat terlalu banyak area yang ada dan anak akan tersebar diberbagai area tersebut?

Jawab: untuk mengelola TK dengan jumlah anak yang terlalu banyak cukup sulit. Hal ini bisa diatasi dengan melibatkan orang tua di sekolah, yaitu secara bergiliran OT diminta untuk membantu KBM di kelas. Melalui komunikasi yang baik tentu OT tidak akan merasa keberatan.


17. Bagaimana mengatasi anak yang lebih tertarik pada sudut pengembangan/pusat minat? Jawab: Jika anak tertarik pada pusat minat biarkan saja mereka bermain disana, namun guru sebagai pendidik hendaknya tetap menstimulasi anak untuk melakukan kegiatan pada pusat minat lainnya.

18. Bagaimana menangani anak hiperaktif?

Jawab: anak hiperaktif perlu difasilitasi secara khusus di sekolah. Namun, apabila hal ini tidak dimungkinkan, dapat menjalin kerjasama dengan OT dalam hal keterlibatan di dalam pendidikan anaknya. OT dapat diminta untuk membantu guru saat KBM secara bergiliran untuk mengatasi anak-anak yang bermasalah.

19. Di Kelompok Bermain/KB masih memakai silabus yang umum seperti TK. Apakah format silabus untuk KB sama dengan TK?

Jawab: tidak ada aturan harus sama, tetapi jika KB akan mengadopsi model program silabus TK diperkenankan.

20. Apakah anak usia 2-3 tahun jumlah temanya dalam satu semester harus 8?

Jawab: jumlah tema untuk satu semester tidak ada ketentuan berapa banyak dan semua itu tergantung dari perencanaan mingguan dan tema yang dipilih sehingga semua indikator yang ada dapat dibagi habis dalam tema-tema yang menjadi pilihannya. Hal terpenting dalam pemilihan tema memperhatikan prinsip-prinsip pemilihan tema, misalnya: tema sebaiknya berasal dari lingkungan terdekat anak dan yang dapat memberikan stimulasi/motivasi/mendorong anak dalam melakukan aktivitas di sekolah: dari hal yang konkrit ke abstrak.

21. Bagaimana membuat pembelajaran Tematik di PAUD bisa berlanjut di SD (mengingat anak usia 0-8 tahun adalah “golden age”) sehingga pelajaran terlihat saling berkesinambungan? Jawab: saat ini telah ada aturan di Permendiknas No. 22 tahun 2006 bahwa SD kelas I s.d III dapat menggunakan pembelajaran tematik.

22. Berikan contoh kalau memang anak yang pernah mengikuti PAUD lebih siap bersekolah dibandingkan dengan anak SD?

Jawab: pada minggu pertama anak SD masuk sekolah akan dapat terlihat perbedaan antara anak yang pernah bersekolah di PAUD dengan anak yang belum pernah sama sekali. Pada umumnya anak yang pernah mengalami pendidikan di PAUD akan lebih cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya dibandingkan yang tidak. Anak yang mengalami PAUD pada hari pertama di SD bisa langsung ditinggal oleh orang tuanya, tetapi tidak demikian bagi anak yang belum pernah. Hasil penelitian menunjukkan bahwaanak yang mengalami pendidikan melalui PAUD lebih mandiri dan lebih mantang secara emosional.

23. Apakah dalam SKM dengan indikator mendengarkan cerita harus dituliskan judul ceritanya? Jawab: sebaiknya judul cerita tidak perlu dicantumkan pada SKM, karena untuk satu indikator, misalnya “mendengarkan cerita” dalam satu minggu dapat diberikan beberapa kali sehingga akan banyak judul cerita yang harus ditulis (sebaiknya judul cerita ditulis di SKH saja).

24. Apakah dalam penyusunan SKM model pembelajaran minat boleh memasukkan berbagai aspek pengembangan pada satu area? Misalnya, pada area seni dicantumkan indikator dari aspek kognitif ataupun fisik motorik? Jawab: boleh dan memang demikian seharusnya.
25. Apakah ada kurikulum PAUD untuk pendidikan non formal?

Jawab: ada, yaitu Standar Perkembangan Anak Usia Lahir sampai dengan 6 tahun.

26. Apakah PAUD dapat mengeluarkan Surat Keterangan Belajar? Jawab: pemberian Surat Keterangan Belajar tergantung pada kebijakan lembaga yang bersangkutan. Tidak ada larangan untuk mengeluarkan Surat Keterangan di pendidikan non formal selama menerangkan bahwa anak telah mengikuti pendidikan di lembaga tersebut.

27. PAUD terintegrasi telah tumbuh menjamur di beberapa provinsi, namun sampai saat ini kurang mendapat perhatian dari pihak Dinas dan Pusat dalam hal pelatihan tenaga gurunya seperti di TK?

Jawab: untuk pelatihan pusat memberikan kesempatan yang sama baik itu untuk PAUD maupun TK. Namun, jumlah pesertanya masih sangat terbatas. Pusat akan tetap memperhatikan perkembangan SDM PAUD daerah, namun untuk kemajuan seseorang tidak hanya ditentukan oleh penerimaan pelatihan, tetapi dapat juga dengan belajar dengan teman atau belajar mandiri.

28. Penyelenggaraan PAUD di biayai secara gratis, seperti pengalaman di Muaro Jambi. Apakah untuk ketentuan administrasi, cara penilaian pembelajarannya harus sama.

Jawab: suatu penilaian pembelajaran tidaklah ditentukan oleh gratis atau tidaknya pendidikan. Penilaian dilakukan untuk mengetahui sejauhmana hasil belajar anak didik. Jadi tidak ada perbedaan cara penilaian antara PAUD dan TK, karena TK termasuk dalam PAUD.

29. Mengingat PAUD ada yang gratis (seperti di Muaro Jambi) sehingga lebih diminati oleh OT. Bagaimana mengatasi agar TK juga diminati OT sehingga dapat menambah siswa? Jawab: agar TK menarik minat OT maka dapat dilakukan berbagai cara. Misalnya, memberikan “trial class” (kelas percobaan) sebagai promosi kepada OT atau menyajikan suatu pembelajaran TK yang dapat menarik minat anak dan OT.

Senin, 08 Februari 2010

PERAN PENTING OLAHRAGA PADA SEKOLAH

Kegiatan olahraga disekolah memiliki peran penting, Karena dengan berolahraga mampu membentuk karakter dan menguatkan otot, serta menyelaraskan koordinasi fungsi bagian-bagian tubuh. Aktivitas olahraga juga akan membuat tubuh bugar serta membangun ketahanan fisik. Pada giliranya, badan yang bugar, ketahanan fisik yang prima, otot yang kuat, dan koordinasi yang baik antar anggota tubuh akan mampu mempengaruhi secara positif  mental dan perilaku siswa.
Melalui kegiatan olahraga, siswa diajarkan nilai-nilai sportivitas yang mampu mendorong siswa untuk mematuhi peraturan, memperoleh kemenangan dengan kerendahan hati dan menerima kekalahan dengan lapang dada. Dalam olahraga dilatih untuk menghormati lawan, wasit dan diri kita sendiri, sebagaimana juga menghormati penonton. Olahraga menyediakan banyak pengalaman yang mampu membangkitkan emosi, melatih untuk menghadapi  tekanan, mengambil inisiatif serat saling mendukung dan setia. Olahraga mendorong untuk mencapai performa terbaik dan berani dalam pengertian keberanian fisik dan juga keberanian moral. Karena itu olahraga  adalah pendidikan untuk menjalani kehidupan yang didukung masyarakat dan membangun stamina, dan  diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Melalui kegiatan olahraga semua pihak yang terkait dapat saling menjalin pengertian dan dialog  maka olahraga merupakan sarana yang baik untuk menumbuhkan atlet berbakat yang dapat meningkatkan kesegaran jasmani dan rohani, memupuk rasa persatuan , persahabatan dan persaudaraan di kalangan pelajar dari berbagai kabupaten atau kota se Jawa Timur.
Di sisi lain olahraga dapat di jadikan sebagai alat untuk saling mengenal dan tukar-menukar kebudayaan sehingga mampu menambah wawasan kepada semua pihak yang berperan didalamnya.

OLIMPIADE OLAHRAGA SISWA SD/MI KECAMATAN CILEGON TAHUN 2010

Salah satu indikator peningkatan mutu pada suatu jenjang pendidikan adalah meningkatnya kemampuan siswa baik menyangkut substansi pelajaran meupun berkembangnya kreativitas, daya nalar, sikap dan budi pekerti para siswa. Agar semangat dan komitmen para praktisi pendidikan tetap terpelihara sehingga maemungkinkan mereka selalu berupaya mengembangkan proses pendidikan, maka perlu diadakan kompetisi atau lomba unjuk kemampuan siswa dalam bentuk olimpiade olahra siswa yang mudah mudah mudah dalam pelaksanaan banyak yang diperoleh oleh siswa dalam menagmbil manfaat dilapangan untuk dimabil dan integrasikan pada seluruh mata pelajaran.
       Dalam buku pedoman OSN SD/MI tahun 2008 yang dikeluarkan oleh Depdiknas dinyatakan bahwa Olimopiade Sains Nasional yang telah dirintis sejak tahun 2003 merupakan salah satu wadah strategis untuk merealisasikan paradigma pendidikan. Pelaksanaan olimpiade secara berkelanjutan akan berdampak positif pada pelaksanaan proses pembelajaran, sehingga diharapkan akan menjadi lebih kreatif dan inovatif. Pada gilirannya siswa akan memperoleh kesempatan mengembangkan seluruh aspek kepribadian dan kemampuannya melalui pembelajaran yang kreatif, efektif dan amenyenangkan. Selain itu juga dimaksudkan untuk merangsang tumbuhnya motivasi para siswa, guru, pengelola dan pembina pendidikan untuk berkompetisi secara sehat dengan mengedepankan sportivitas guna mencapai prestasi tertinggi.
        Tema O2S SD?MI tahun 2010 adalah " dengan OOS SD/MI kita jadikan sebagai tolak ukur keberhasilan dan pengembangan olahraga pada usian dini" . Pada tahap awal Guru Olahraga SD /MI melaksanakan seleksi siswa yang menjadi kontingen sekolahnya masing masing yang akan menjadi duta atau delegasi O2S SD?MI tingkat Kecamatan tahun 2010
Semoga hasil dari O2S SD/MI tingkat Kecamatan Cilegon Siswa dan Guru dapat; Meningkatkan kemapuan dan keterampilan gerak dibidang Olahraga yang merupakan bagian dari pendidikan jasmani, Mendapatkan Motivasi, Minat Bakat bagi siswa terhada Olahraga Sedini mungkin, Siswa dapat meningkatkan kebugaran jasmani yang kuat dan prima, dan yang paling penting adalah pada kegiatan ini dapat melahirkan bibit dan tunas olahragawan yang potensial yang menjadi kebaggaan.
Yang Menjadi Sasaran Pada Kegiatan O2S SD/MI inim adalah Seluruh siswa tingkat SD/MI terhitung 1 Januri 1998 dan atau duduk dikelas V siswa SD/MI.
Cabang Olahraga yang akan dipertandingkan adalah, Atletik Kids, Tenis Meja, Catur, Bulu Tangkis Sepak Takrau, Sepak Bola mini, Bola Voleey mini dan Olahraga eksibisi ( Pendataan ) yaitu ; Pencak silat, tenis lapangan, renang, miniBridge, serta karate.
Mudah mudahan para pemenang dan atau yang dapat percaya untuk menjadi wakil atau duta SD/MI Se Kecamatan Cilegon dapat merebut kejuaraan di Tingkat Kota Cilegon

Disampaikan Oleh Dra, MUHAYATI, M. Si. ( Ketua BAPOPSI Kecamatan Cilegon yang merangkap sebagai Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Cilegon )

Minggu, 17 Januari 2010

PENGHASILAN GURU PNS PALING TINGGI

Penghasilan guru lebih tinggi dibandingkan penghasilan yang diterima pegawai negeri sipil atau PNS lainnya. Itu terjadi karena hanya guru yang mendapatkan tunjangan kependidikan sebagai tambahan pada komponen penghasilannya.

Informasi tersebut terungkap dalam Buku Saku APBN dan Indikator Ekonomi yang diterbitkan Direktorat Jenderal Anggaran, Kementerian Keuangan. Buku tersebut diterima Kompas di Jakarta, Kamis (14/1/2010).

Tunjangan kependidikan untuk guru bergolongan II/a dengan masa kerja 10 tahun ditetapkan senilai Rp 286.000 per bulan. Oleh karenanya, jika ditambahkan dengan komponen penghasilan lainnya, maka penghasilan bersih seorang guru golongan II/a dan belum kawin akan mencapai Rp 2.489.635 per bulan.

Adapun penghasilan bersih untuk guru bergolongan tertinggi atau golongan IV/e dengan masa kerja 32 tahun dan belum kawin mencapai Rp 4.631.300 per bulan. Ini lebih tinggi dibandingkan penghasilan bersih PNS non -guru pada golongan yang sama mencapai Rp 4.244.415 per bulan.

Perbedaan itu terjadi karena guru golongan IV/e mendapatkan tunjangan kependidikan senilai Rp 389.000 per bulan. Tunjangan kependidikan ini tidak diberikan kepada PNS non-guru.

Bedanya, tunjangan beras seorang guru lebih kecil dibandingkan PNS lain. Guru dengan golongan II/a hingga IV/e menerima tunjangan beras senilai Rp 42.300 per bulan, adapun PNS dengan golongan sama menerima tunjangan beras sebesar Rp 44.415 per bulan. Ini artinya, tunjangan beras guru belum dinaikkan pada tahun 2010, karena masih menggunakan standar lama.

( Sumber : Kompas.com : 14 Januari 2010 )

Selasa, 01 Desember 2009

HUT PGRI CABANG KECAMATAN CILEGON

PGRI AWARD adalah Pemberian anugrah kepada Sekolah, Kepala Sekolah dan Dewan Guru yang dianggap Cakap dan Baik untuk dijadikan kepad Rekan-rekan Sekerja dan Sekolah Khusunya di Lingkungan Kecamatan Cilegon

Berikut Peraih PGRI AWARD
Untuk Kategori Sekolah Berpretasi : SD YPWKS V Cilegon
Untuk Kategori Kepala Sekolah SD/MI Terbaik : SITI HAWA ( SDN Ciwaduk )
Untuk Kategori Guru Kelas SD/MI terbaik : BAhrudin, S. Pd. SD
Untuk Kategori Guru Matpel SD/MI terbaik : Elly Muliawati, S. Pd.
Untuk Kategori Guru TKS SD/MI terbaik : Edi Ruseno
Untuk Kategori Kepala TK/PAUD terbaik : Sunarti
Untuk Kategori Guru TK/PAUD Terbaik : Umi Kulsum

Dan Sekolah Favori tahun 2009 : SDN Blok i Cilegon

Sabtu, 28 November 2009

PGRI CAB. CILEGON BANTEN ( Persatuan Guru Republik Indonesia Cabang Kecamatan Cilegon ): PGRI AWARD

PGRI CAB. CILEGON BANTEN ( Persatuan Guru Republik Indonesia Cabang Kecamatan Cilegon ): PGRI AWARD

PGRI AWARD

Dalam rangka memeriahkan HUT PGRI ke 64 dan Hari guru nasional di Cabang PGRI Kecamatan cilegon
Cabang PGRI Kecamatan Cilegon menggelar kegitab PGRI Award dan Lomba Tumpeng antar Gugus di Lingngan UPTD Pendidikan Kecamatan cilegon
Dalam PGRI Award tersebut akan diberikat tropy atau plakat untuk kategori
1. Sekolah Berprestasi
2. Kepala Sekolah SD/MI terbaik
3. Kepala TK/PAUD terbaik
4. Guru Kelas SD/MI terbaik
5. Guru Mat. Pelajaran Terbaik
6. Guru TK/PAUD terbaik
7. Guu TKS Terbaik

Diharapakan kepada seluruh anggota PGRI Cabang Kecamatan Cilegon dapat menghadiri Pada
Hari/Tanggal : Selasa, 01 Desember
Waktu : Tumpeng ( 09. 00 S.d Selesai )
: PGRI Award ( 11. 00 s.d selesai )
Tempat : UPTD Pendidikan Kecamatan Cilegon
Pakaian : Batik PGRI Putih

Rabu, 21 Oktober 2009

Halal Bihalal PGRI Kec. Cilegon

p


Sabtu, 05 September 2009

UPTD Pendidikan Kecamatan Cilegon

Seluruh dewan pengajar/guru dan ustadz di lingkungan UPTD Pendidikan Kecamatan Cilegon Hadiri dan Ikuti Pemgajian dan Buka bersama dengan Pemberi Tausiah " Drs. Murta Wisata " Kabid Dikdas Dinas Pend. Kota Cilegon Pada hari Senin Tanggal 7 September 2009

Terima kasih